Jumat, 18 Maret 2016
Sabtu, 27 Februari 2016
Bimbang
Pertama kali aku tergugahDalam setiap kata yang kau ucapBila malam tlah datangTerkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku
Rabu, 17 Februari 2016
Kepadamu Senjaku.
Aku suka ketika kau bersajak, seolah kau tenggelam dalam
setiap imajinasi yang berkecimpung dalam fikiranmu. Begitu apa adanya, santai.
Tanpa adanya tipuan ilusi atau sajak yang rekayasa. Namun kau benar-benar murni
bersajak sesuai apa yang hati dan fikiranmu singkronkan..
Mengapa kau mencintai senja? Aku tersenyum meremehkan, apa
yang indah dengan senja? Bukankah senja akan menggantikan kecerahan hari
menjadi gelap gulita? Mata ini seakan buta untuk menatap, tak heran kau begitu
mencintainya. Karena senja, adalah dirimu yang lain
Ada dirimu yang kau sendiripun tak dapat mengenalinya,
keanehanmu menjadi keganjalanku. Kekuranganmu menjadi pelengkapku. Kita sama
namun sebetulnya sangat berbeda. Kau dengan senjamu dan aku sebagai penikmat
kopi yang tersenyum ketika melihatmu membanggakan senja.
Memang ada yang melebihi saudara, memahami meskipun tak
mengerti. Mengiyakan meskipun tidak setuju, menerima meskipun tak sesuai dengan
cara berfikir, dan tertawa karena pada hakikatnya ikatan kita ini satu.
Entah apakah kau merasakan kegundahan yang aku sungguh tidak
dapat menerka dengan akal sehatku. Begitu terlalu mudah suasana hatimu goyah.
Ketika aku diam, aku benar-benar tidak tahu cara membujukmu menjadi senjaku
yang ceria lagi.
Apakah karena itu kau mencintai senja? Karena senja mampu
merubah hal yang sebenarnya tidak ingin ditinggalkan?
Kepadamu senjaku, aku menulis pada hujan dibulan Februari
kamu
Kalau kamu tanya dimana tempat favoritku, aku jawab “tempat bonceng motormu” aku bisa bercerita, menggodamu, bahkan mengolok-olokmu semauku
Kalau kamu tanya apa keadaan yang sangat aku tunggu-tunggu? aku jawab "ketika berjalan dari GKB menuju parkiran dan menemuimu menungguku disitu".
Kalau kamu tanya apa kebahagiaan kecil untukku? aku jawab "berjalan beriringan dikampus sambil tanganmu mengelus kepalaku"
Kalau kamu tanya kapan hari paling menyenangkan? aku akan jawab "hari dimana pertama kali kita bertemu"
Kalau kamu tanya apa yang membuatku berdebar? Aku jawab "Melihatmu sedang melihatku dan tersenyum"
Kalau kamu tanya apa yang paling aku sukai? Aku jawab “semua cacat dan sempurnamu”
Kalau kamu tanya apa yang paling aku kagumi? Aku jawab “perubahan lebih baikmu”
Kalau kamu tanya apa hal yang paling membuat aku aman? Aku jawab “berada dalam penjagaanmu”
Kalau kamu tanya kenapa aku perlu menulis ini dalam blogku? Aku jawab “aku suka menulis tentangmu”
Kamis, 28 Januari 2016
Kenangan itu nyata adanya
Malam ini, kenangan itu muncul lagi menyambar dipikiranku, haruskah kubiarkan pergi atau kuizinkan menggeledahi seisi kepalaku akan kenyataan yang telah berlangsung lama itu?
Kupaksa pejamkan mata, namun malam menolaknya seolah ingin aku kembali terhanyut dalam kenangan itu.
Bukan kenangan syahdu, hanya begitu kuat kekuatan yang disebut sebaik-baiknya penyimpan.
Sebutir kenangan mampu merusak jutaan sel-sel otak yang bersikeras melupakannya, layaknya hukum pareto 80/20 hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Begitu pula usaha menyimpan sebuah kenangan.
Mengapa harus angkasa? Apa karena adanya semesta? Angkasa dan semesta saling berkaitan begitu pula kenangan dan masa depan.
Kupaksa pejamkan mata, namun malam menolaknya seolah ingin aku kembali terhanyut dalam kenangan itu.
Bukan kenangan syahdu, hanya begitu kuat kekuatan yang disebut sebaik-baiknya penyimpan.
Sebutir kenangan mampu merusak jutaan sel-sel otak yang bersikeras melupakannya, layaknya hukum pareto 80/20 hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Begitu pula usaha menyimpan sebuah kenangan.
Mengapa harus angkasa? Apa karena adanya semesta? Angkasa dan semesta saling berkaitan begitu pula kenangan dan masa depan.
Langganan:
Postingan (Atom)