"ini budayaku. ya! aku pancen wong Jowo!" teriakku dalam hati.
Malam ini aku teringat akan lelaki yang 5 tahun silam sedang menempuh gelar sarjana di salah satu universitas ternama di kota Yogya. Idam namanya. tapi aku sering memanggilnya dengan sebutan "Amang" atau dalam bahasa Banjar adalah panggilan untuk laki-laki yang lebih tua. Ia berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur yang lebih tepatnya ia tinggal di Jalan Kadrie Oening GG. Respen, Air Hitam, Samarinda Ulu. Aku memang belum pernah menginjakkan kakiku di ibu kota Kalimantan Timur itu. Namun, aku menghafal alamatnya, aku menghafal keluarganya, aku belajar bahasanya meski aku ini wong Jowo. Bahkan, aku tau dan ingat betul bahwa ia suka makanan pedas-asin. Ibunya Banjar-Kutai dan bapaknya adalah orang Jawa yang lahir di kota Yogyakarta. Ya, kota istimewa penuh cinta dan juga bisa dibilang kota yang menjadi pusat bapia pathok dan Yogyakarta adalah kotaku. kota dimana aku tinggal dan kota dimana aku bertemu dengan Idam. Aku memang lahir di Malang, Jawa Timur. Namun, setelah lulus SMP ayahku dipindah tugaskan di Yogyakarta. Aku senang bapaknya adalah orang Jawa sehingga Idam bukan Banjar tulen. meski bagiku dibilang Jawa pun ia tak pantas karena kulitnya yang risik dan mukanya yang memang tidak seperti orang Jawa. Sempat aku bertanya "kamu lebih suka disebut suku Jawa atau suku banjar?" namun Idam hanya tersenyum melihatku yang sedang tenggelam dalam pertanyaanku sendiri. Aku suka ketika ia diam. aku suka ketika ia lebih banyak tersenyum melihat celotehanku. sempat pula aku bertanya padanya "Dam, kenapa kamu pendiam?" dan tanpa diduga ia menjawab "karena waktu kecil aku sangat berisik, hingga mamak dan abah menegurku karena terlalu berisik, sejak saat itu aku lebih banyak diam" aku memperhatikan Idam bercerita singkat namun jelas isinya. aku mengangguk mengiyakan. aku menyukainya. aku menyukai kebudayaannya.Kami berteman sejak duduk di semester 1 yang tidak sengaja kenal lewat teman SMA ku bernama Aryo yang ternyata adalah teman kuliah Idam. Mereka berdua menempuh kuliah di UGM dan mengambil jurusan Teknik Industri sedangkan aku kuliah di UNY fakultas bahasa dan seni dan mengambil jurusan Sastra Indonesia."Ayu! gimana kabarnya tho? pangling aku!" Aryo memanggilku ramah di Angkringan dekat Malioboro."Baik yo, kamu kuliah dimana sekarang?" jawabku dengan tak kalah ramah."Aku kuliah di UGM Yu, kata anak-anak kamu keterima di UNY? Selamat ya?" Aryo menjabat tanganku dan aku menyambut tangan itu dan mengucapkan terimakasih. Aryo memang baik.Namun, mataku menangkap sosok tinggi jakung berkacamata dengan kulit bersih yang duduk di sebelahnya. Ia tampak sibuk dengan kopinya tanpa memperdulikan aku yang sedang berbincang dengan Aryo. tidak lama setelah itu Aryo mengenalkanku dengan lelaki itu. "Oh Iyo aku lali. kenalin iki koncoku satu kampus, namanya Idam" lak-laki jakung itu menoleh dengan senyum ramah sambil menyalamiku "Idam" aku balas menjabatnya "Ayu, salam kenal" Aryo mengajakku bergabung bersama mereka namun aku harus segera pulang karena ibuku menitip wedang jahe di angkringan langganannya ini.Pertemuan singkat yang menyebabkan aku dan Idam berteman, kami menjadi sering bertemu ntah nonton bioskop, makan di angkringan, atau sekedar jalan-jalan menyusuri jalan malioboro. Idan menjelaskan budayanya tidak jauh beda dengan Jawa. "Ketika akan menjelang bulan Ramadhan, di rumahku juga ada slametan, sama aja seperti disini" Idam menjelaskan dengan meminum Coca-cola yang baru saja ia beli. malam itu kami berada di Plaza Ambarukmo."Dam, ajari aku bahasa banjar. aku mau kita bicara pakai bahasa banjar" ujarku dengan mimik muka mengharap. lagi-lagi ia tersenyum."Buat apa? kita bisa lancar bahasa Indonesia, dan semisal kamu pakai bahasa Jawa pun aku paham meski aku tidak bisa membalas menggunakan bahasa Jawa. aneh rasanya""Tapi aku ingin tau tentang daerahmu, aku ingin tau lebih banyak" aku menjawab dengan nada jutek. Idam mengacak-acak rambutku."Baiklah, dasarnya saja. Ulun itu berarti aku, ikam itu kamu tapi ada juga bahasa banjar yang lebih halus yaitu pian". Idam menjelaskan beberapa kosa-kata bahasa Banjar yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. aku mengamatinya dengan tersenyum. "Atau kamu bisa memanggilku dengan Amang yang memiliki arti laki-laki yang lebih tua" aku mengangguk tanda setuju. begitulah asal mula aku memanggilnya Amang.Aku dan Idam semakin dekat dan selalu bersama. hingga suatu saat hal yang tidak aku duga terjadi."Yu, sepertinya aku harus pulang ke Samarinda minggu ini. mamak sakit. kau tak apakah sendiri di sini?"dengan khawatir aku menjawab "Astaghfirullah, sakit apa dam? ora popo. pulanglah!"aku dengan Idam memang berteman namun semua orang tahu aku dan Idam saling menyayangi meski belum menyandang status pacaran.Hari berganti hari setelah Idam pulang ke Samarinda. Aku menjalani hariku dengan biasanya. sesekali Idam menghubungiku lewat telepon. Aku gembira. Aku berharap ketika ia kembali ke Yogyakarta ia bercerita tentang keluarganya di Kalimantan. Aku berharap ia menceritakanku pada keluarganya. Namun, setelah telpon nya yang terakhir, Idam belum menghubungiku selama 2 minggu ini, aku khawatir ada apa. aku telepon namun selalu sibuk. aku sangat khawatir.Pagi hari, aku bangun dengan muka malas. Hari ini hari minggu tentu saja aku sedang libur kuliah, dan aku sudah sikat gigi. Setelah keluar dari kamar mandi aku menemui sosok lelaki yang menyita banyak pikiranku sedang duduk di ruang tamu, aku kaget sekali tapi aku bahagia. Dari mimik wajahnya aku melihat bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Dengan tenang Idam tersenyum tipis.“Hai Ayu, bagaimana kabarmu? Bisa keluar sebentar?” aku menjawab dengan nada pura-pura ngambek“Jahat, pian kada menelpon sama sekali!” ujaku menggunakan bahasa banjar yang berarti dia tidak menelponku sama sekali.“Aku akan menjelaskan, bisa keluar sebentar tidak Bungas?” ia memanggilku dengan sebutan bungas yang berarti cantik. Aku mandi dan siap-siap keluar dengan hati bahagia. Entah mengapa jika bertemu dengannya aku tidak pernah bisa marah.Sepanjang perjalanan Idam membisu, jalan-jalan menjadi saksi saat itu. Bau tanah masih semerbak karena belum kering terguyur hujan. Kami belok ke Jalan Janderal Ahmad Yani dan berhenti di sebuah cafe bertuliskan “Indische Koffie” tempatnya bagus dengan kursi putih tinggi dan disuguhi pemandangan taman yang begitu indah.“Yu, aku mau bicara” ucapnya lirih. Jantungku berdtak tidak karuan, tanganku bergemetar. Aku dan Idam memang sudah seperti anak pacaran namun aku menduga saat ini ia akan memintaku menjadi pacarnya. Aku senang luar biasa. Namun, dari mimiknya mengapa aku melihat ada sesuatu yang bukan aura kebahagiaan.“Ada apa dam? Kadada masalah kah?” ujarku menggunakan bahasa banjar yang memiliki arti tidak ada masalah kah?Idam diam.“Cerita dam ada apa? Jangan diam saja. Aku khawatir kamu tidak memberiku kabar sama sekali?” aku mendesaknya agar menceritakan hal apa yang akan dibicarakan.Matanya berkaca-kaca, aku dapat melihatnya jelas di belik kacamatanya yang mengembun. Idam melepas kacamatanya dan memijat keningnya dengan tangan. Aku terpekik, selama satu tahun ini belum pernah aku melihatnya menangis.“aku tresno kowe yu” kata-kata itu menghujam jantungku, seperti dugaanku akhirnya ia mengatakannya.“tapi, aku gak bisa sama kamu” lanjutnya. Jika ada petir pasti petir itu sudah menyambar dadaku ini. Sakit sekali.Aku diam. Aku menduduk.“aku tidak tahu harus mengawalinya bagaimana. Kau tahu kan ibuku banjar-kutai dan ayahku Jawa. Memang di Kalimantan tidak ada larangan untuk menikah dengan orang Jawa. Tapi dalam keluargaku haram hukumnya. Kemarin aku pulang karena mamak sakit. Ternyata mamak melihat foto kita berdua di akun instagramku yang aku unggah beberapa waktu lalu. Mamak tau bahwa kamu adalah keturunan Jawa tulen. Aku sempat bertengkar di telepon hingga mamak jatuh sakit dan abah menyuruhku pulang”Penjelasannya menyesakkan dadaku, ingin aku menangis. Tapi kutahan. Satu tahun bukan waktu yang cukup singkat dan banyak sekali kenanganku bersamanya.“apa salahnya dengan orang Jawa? Kami sopan kami punya unggah-ungguh. Dan orang tuamu belum mengenalku”“waktu itu mamak menikah dengan abah meski telah ditentang keras dengan keluarga besar. Karena nenek pernah ditipu dengan orang Jawa dan harta bendanya habis atau biasa orang jawa mengatakan Ludes. Sejak saat itu keluarga kami menjadi amat miskin tidak sepeti sekarang ini. Kakek dan nenek memulai lagi usaha “amplang” dan tentu saja keluagaku sangat membenci orang Jawa” ia berhenti sejenak dan meminum es jeruk yang telah dipesan.“hingga saat mamak memutuskan mencintai orang Jawa, seluruh keluarga besar murka dan mengusir mamak dari rumah bahkan tidak menganggap anak lagi. Hingga aku lahir, wajahku begitu mirip dengan keluarga mamak dan aku benar-benar banjar. Nenek dan kakek sangat menyayangiku dan mereka melupakan amarahnya terhadap mamak. Tapi tetap tidak menerima abahku. Ketika ada acara keluarga. Aku dan mamak yang diundang”Panjang lebar Idam menjelaskan, dan air mataku tidak bisa terbendung lagi. Aku menangis. Pipiku basah. Aku tahu apa yang akan dikatakannya selanjutnya. Aku tahu. Aku paham. “Tolong jangan dilanjutkan” pintaku dalam hati.“Ayu, kamu tahu kan aku harus berbakti kepada orang tua. Mamak menasehatiku agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Mamak tau aku sangat mencintaimu tapi aku terpaksa mengatakan ini. Kita berpisah saja meski dimulaipun saja belum” Idam mengatakan itu dengan cucuran air mata yang tak kalah derasnya denganku.Aku tidak peduli dengan orang yang lalu lalang melihat kami menangis. Aku mencintai budayanya. Sebelumnya aku mencintai Jawa dengan orang-orangnya, musiknya, sopan santunnya. Namun, Idam datang dan aku suka tentang kebudayaannya pula. Tapi apa salahnya dengan suku bangsa yang tidak senada? "ini budayaku. ya! aku pancen wong Jowo!" teriakku dalam hati.Idam pergi. Idam pulang ke kotanya. Aku mulai menata hidupku lagi. Bukan dengan orang-orang baru tapi dengan semangat yang baru. Aku lewati hari-hariku dengan sabar. Lulus kuliah aku pergi merantau mencari pekerjaan dan tentu saja melupakan Idam. Hingga kini aku menjadi jurnalis di kota Malang, kota kelahiranku. Cukuplah Yogyakarta membesarkanku dan memberikanku pengalaman. Aku tidak membenci orang suku bangsa Banjar. Namun, aku tidak ingin terlalu dekat dengan mereka karena luka masalaluku.Malam ini, aku menulis dengan menitikkan kembali air mataku. “meski kita berbeda suku bukankah kita Indonesia?” tanyaku padanya ketika awal berkenalan. “Tentu saja” jawabnya dengan senyum khasnya. Tapi itu hanya kenangan. Dan aku bahagia pernah mengenalnya.
Senin, 20 November 2017
SUKU BANGSA TAK SENADA
Jumat, 16 September 2016
Analisis Karya Sastra dengan Pendekatan Feminisme
KETIDAKADILAN GADIS AKIBAT
PERBEDAAAN GENDER DALAM NOVEL GADIS PANTAI
Karya: Pramoedya Ananta Toer
Riska
Ida Febriyanti
201510080311053
Prodi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang
Latar Belakang
Karya
sastra digunakan pengarang untuk menyampaikan pikirannya tentang sesuatu yang
ada dalam realitas yang dihadapinya. Realitas ini merupakan salah satu faktor
penyebab pengarang menciptakan karya, di samping unsur imajinasi. Sastra bisa
mengandung gagasan yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap
sosial yang mungkin atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.
Paham tentang wanita sebagai orang lemah lembut dan sebaliknya pria sebagai
orang yang cerdas, aktif dan sejenisnya selalu mewarnai sastra kita. Ada pula
ketika sastrawan pria bicara tentang perempuan sering tersurat
pemojokan-pemojokan. Nasib perempuan pada pihak yang “minus” atau negatif,
bahkan sering sampai ketitik sengsara batin. Perempuan hanya sekadar objek.
konsep ini telah membelenggu hingga mendorong perempuan kesudut keterpurukan
nasib. Novel sebagai salah satu produk sastra memegang peranan penting dalam
memberikan pandangan untuk menyikapi hidup secara artistik imajinatif. Hal ini
dimungkinkan karena persoalan yang dibicarakan dalam novel adalah persoalan
tentang manusia dan kemanusiaan.
Karya
sastra yang saya kaji dalam penelitian ini adalah novel Gadis Pantai karya
Pramoedya Ananta Toer tahun 2003. Novel ini saya pilih untuk dikaji karena
novel ini mengangkat masalah perempuan di kampung nelayan di Jawa Tengah,
Kabupaten Rembang pada zaman penjajahan Belanda. Dalam novel ini, pembaca
dihadapkan pada ketidakadilan yang dialami oleh perempuan pada zaman penjajahan
Belanda. Melalui karya sastra ini pengarang memberikan refleksi kepada pembaca
tentang ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dan rakyat miskin pada masa
itu tanpa dapat melakukan pembelaan. Dalam penelitian ini, saya menggunakan
kajian sastra feminis, dengan mempertimbangkan segi-segi feminism. Novel Gadis
Pantai ini menurut pengarangnya menggambarkan masyarakat Jawa, antara kaum
priyayi dan rakyat jelata pada masa penjajahan dulu. Novel ini menampilkan
tokoh utama yang memiliki jiwa penurut, tidak menentang perkataan orang tuanya.
A.
Ketidakadilan
Perempuan Sebagai Anak
Perempuan juga sebagai anak dalam sebuah keluarga
juga sangat berperan. Dalam usia
belasan tahun ini, Gadis Pantai dinikahkan dengan seseorang yang belum
dikenalnya. Posisi perempuan sebagai sebuah properti yang pindah tangan dari
kepemilikan bapak menjadi milik suami tampak pada bagian awal cerita. Umumnya
perempuan sebagai anak adalah menurut terhadap segala keinginan orang tuanya,
dan tidak dapat menolak. Seperti dalam novel gadis pantai dalam kutipan
berikut.
“Maka pada suatu hari perutusan seseorang itu datang
ke rumah orangtua gadis. Dan beberapa hari setelah itu sang gadis harus
tinggalkan dapurnya, suasana kampungnya, kampungnya sendiri dengan bau amis
abadinya. Ia harus lupakan jala yang setiap pecan diperbaikinya, dan layar tua
yang tergantung di dapur, juga bau laut tanahairnya.” (Gadis Pantai:12)
B.
Ketidakadilan
Perempuan Sebagai Budak
Perempuan sebagai budak seringkali di sia-sia, harus
mematuhi segala perintah majikannya dan tidak diperkenankan menjawab segala
sesuatu dengan seenaknya, dalam novel ini perempuan sebagai budak hanya
diperbolehkan menyebutkan aku itu dengan “sahaya” dan terlihat pada kutipan
berikut.
“Sahaya?”
Kembali
bujang itu tertawa terkekeh ditekan. Membenarkan. “Pada aku ini Mas Nganten
tidak boleh sebut diri sahaya. Itu kata hina bagi penyebut di hadapan dan untuk
Mas Nganten.” (Gadis Pantai:27)
“Dirampasnya
anak sahaya, dirampasnya suami sahaya. Dan suami sahaya yang kemudian. Ke mana
lagi perginya sahaya ini, kalau sudah tidak sanggup lagi layani Bendoro?” (Gadis Pantai:97)
C.
Ketidakadilan
Perempuan Sebagai Orang Kampung
Perempuan diperlakukan tidak adil hanya karena
berasal dari kampung dan diperlakukan semena-mena seperti dalam kutipan berikut
ini.
Kembali
Gadis Pantai bertanya, “Jadi, aku bukan istri Bendoro?”
“Istri,
ya, istri, Mas Nganten, Cuma namanya istri percobaan.’
“Lantas
kau dapat perintah mengusir aku, biar Bendoromu dapat kawin dengan wanita
berbangsa, bukan? Ah, ah, aku bisa menetap di kampung ini, kampungku sendiri.
Kau boleh pulang. Jangan ikut masuk kampung”. (Gadis Pantai:156)
“Lantas,
apa saja yang ada dalam kehidupan Mas Nganten?”
“Setelah
lebih dari dua tahun tinggal di gedung, tahulah aku, kami Cuma punya
kemiskinan, kehinaan, dan ketakutan terutama pada orang kota. Di kampung kami
tahu benar tepung udang dibayar sebenggol, padahal mestinya empat sen. Itu
tidak layak, tidak adil. Tapi lihatlah diriku ini. Bukan lagi tepung udang.
Manusia! Aku tak bisa dipungut begitu saja dari kampung, di simpan di dalam
gedung. Kau, kau orang kota, apa yang kau tahu tentang orang kampung?” (Gadis Pantai:157)
Daerah asal Gadis Pantai dianggap begitu rendah oleh
Bendoro.
“… Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai
ini. Sama saja. Sepuluh tahun yang baru lalu aku juga pernah datang ke
kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela,
tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran,
orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka
miskin.” (Gadis Pantai:41)
“Bendoro sahaya, ya, Bendoro sendiri”
“Dan aku?”
“Ah, Mas Nganten. Mas Nganten kan orang
kampung?” (Gadis Pantai:124)
D. Ketidakadilan Perempuan Berdasarkan Kelas Sosial
Dalam novel Gadis
Pantai, tokoh Bendoro mewakili priyayi Jawa. Bendoro mengambil Gadis Pantai
untuk menjadi teman seranjangnya saja. Dan Gadis Pantai disini sebagai
perwakilan rakyat kecil yang hidup dalam kelemahan serta tidak berdaya melawan
konstruksi social pada masa itu. Bendoro meminang Gadis Pantai hanya dengan
sebilah keris dalam kutipan berikut ini.
“
kemarin malam ia telah dinikahkan.
Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu , kini ia bukan anak
bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris. Wakil
seseorang yang tak pernag dilihatnya hidup.” (Gadis Pantai: 12)
“Kau
pikir apa kami ini? Orang kampung? Orang dusun? Orang pantai yang tak pernah
lihat duit?”
“Apa
ini semua maksudnya menghina kami?” yang lain lagi menyerang (Gadis Pantai:112)
Ketidakadilan karena
status juga sangat mencolok dalam kehidupan perempuan budak. Ketika berkata
jujur dan ingin menolong namun malah diusir seperti dalam kutipan berikut.
“Pergi
kau. Sekarang juga tak perlu injakkan kaki di rumah ini, jangan pula di
pekarangannya”
“Sahaya,
Bendoro” (Gadis Pantai:120)
Dengan adanya
ketidakadilan seorang berkelas atas dan kelas bawah menjadikan adanya
deskriminasi yang menjadikan seseorang tidak layak karena status yang dimiliki
tidak sama. Seperti dalam kutipan berikut.
“…
itu tidak layak bagi wanita utama, Mas Nganten. Wanita utama cukup menggerakkan
jari dan semua akan terjadi. Tapi sekarang ini, sahaya inilah yang mengurus Mas
Nganten. Sebelum Bendoro memberi izin, Mas Nganten belum bisa bertemu. Mari
sahaya mandikan. Pakai selop itu” (Gadis
Pantai:28)
Dan juga perbedaan kelas
inilah yang memberikan jurang pemisah sehingga perempuan golongan kelas atas
tidak boleh berteman dengan yang tidak sederajat seperti dalam kutipan.
“Dan
sekarang Gadis Pantai mulai tertegun. Ia mulai mengerti, disini ia tak boleh
punya kawan seorang pun yang sederajat…..” (Gadis
Pantai:46)
Ketika seseorang menjadi
kalangan bangsawan maka emaknya pun juga berbeda kelas dengan Gadis Pantai.
“Biarlah
emak kawani aku di sini, kalau aku tidak boleh tidur di kamar dapur.”
“itu
tidak layak bagi wanita utama”
“dia
emakku, emakku sendiri mbok”
“Begitulah
Mas Nganten, biar emak sendiri, kalau emaknya orang kebanykan, dia tetap seorang
sahaya” (Gadis Pantai:58)
E. Ketidakadilan Perempuan Sebagai Istri
Pada kenyataan
sebenarnya perempuan sebagai istri adalah melayani suami, dengan cinta dan
kasih saying istri. Dalam novel ini istri hanya diizinkan untuk menurut saja
pada Bendoro. Karena ini tidak seperti suami-istri namun seperti budak dan majikan.
“Beruntung
kau menjadi istri orang alim, dua kali pernah naik haji, entah berapa kali
khatam Qur’an. Perempuan nak, kalau sudah kawin jeleknya laki jeleknya kita,
baiknya laki baiknya kita. Apa yang kurang pada dia?” (Gadis Pantai:14)
Dalam kutipan tersebut
dijelaskan bahwa sebagai istri hanya menganut oleh kebaikan suami. Jika suami
baik istri juga akan baik begitu pula sebaliknya. Disini dijelaskan bahwa tidak
adanya keadilan jika suami buruk namun istrinya yang baik akan tetap buruk
pula.
“…
Dalam beberapa minggu ini setapak demi setapak ia dipimpin untuk mengerti bahwa
satu-satunya yang ia boleh dan harus kerjakan ialah mengabdi pada Bendoro, dan
Bendoro itu tak lain dari suaminya sendiri” (Gadis Pantai:67)
Dalam kutipan tersebut
menjelaskan bahwa tugas Gadis Pantai sebagai istri hanya mengabdi layaknya
budak kepada Bendoro.
“Perempuan
ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki.
Karena itu jangan bicarakan itu Mas Nganten. Pukulan itu apalah artinya kalau
dibandingkan dengan segala usaha buat bininya, buat anak-anaknya. Kalau saja
Tuhan dulu mengurniakan sahaya anak ...” (Gadis
Pantai:95)
Kutipan tersebut
menjelaskan sebagai istri harus pasrah dengan apa yang dilakukan suami meski
harus dipukul sekalipun.
“Tapi
kau anaknya, kau bukan hanya istriku”
“Sekarang
ini kewajiban sahaya adalah mengabdikan diri pada Bendoro. Orangtua sahaya
dapat menolong diri sendiri tanpa sahaya, Bendoro” (Gadis Pantai:108)
“Subuh
hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro yang sedang mengaji.
Suamiku! Ah, Suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang
dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku Cuma budak sahaya yang hina-dina”
(Gadis Pantai:248)
F. Ketidakadilan Perempuan Sebagai Ibu
Perempuan sebagai ibu
sudah tentu sangat menyayangi anaknya dan rela melakukan apapun agar anaknya
bahagia dan hidup lebih baik dari ibunya. Dalam novel ini ada kutipan sebagai
berikut.
“Tapi
anak ini, anak ini, dia akan bernasib lebih baik dari ibunya. Dan takkan
dilahirkan di sebuah kampung nelayan ...”(Gadis
Pantai:249)
Adapun ketidakadilan
perempuan sebagai ibu adalah ketika anaknya adalah perempuan. Karena dalam
kalangan priyayi anak laki-lakilah yang akan didambakan.
“Jadi
sudah lahir dia. Aku dengar perempuan bayimu, benar?”
“Sahaya,
Bendoro”
“Jadi
Cuma perempuan?” (Gadis Pantai: 253)
Kutipan diatas
menjelaskan bahwa Bendoro meremehkan Gadis Pantai yang hanya melahirkan anak
perempuan, karena perbedaan gender laki-laki dan perempuan sangat mencolok.
Laki-laki bisa melakukan segala hal sedangkan perempuan tidak.
“Sahaya adalah emaknya, sahaya
yang hina ini, tuanku. Bagaimana sahaya harus urus dia di kampung nelayan
sana?.......”
“Aku
tak suruh kau asuh anakku”
“Haruskah
sahaya pergi tanpa anak sahaya sendiri, tuanku?” (Gadis Pantai: 257)
Kutipan tersebut
menjelaskan bahwa ketidakadilan gender pada perempuan juga terlihat ketika
Bendoro menyuruh Gadis Pantai untuk meninggalkan anaknya sehingga Gadis Pantai
tidak diperkenankan membawa darah dagingnya sendiri.
“Lupakan
bayimu, anggap kau tak pernah punya anak” (Gadis
Pantai:258)
Perempuan sebagai ibu
yang sangat menyayangi anaknya selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada
anaknya. Ia rela kehilangan segalanya. Seperti kutipan berikut.
“Apa
yang takkan kuberikan kepadamu, nak? Apa yang takkan kukurbankan? Sekarang,
sekarang hakku sebagai ibumu pun kurelakan buat kau!” (Gadis Pantai: 259)
“Kau
bijaksana nak, Memang tak patut seorang ibu dibatalkan haknya sebagai ibu.
Tidak patut. Tidak patut!...” (Gadis
Pantai:260)
“Bayi
ini anakku bapak, aku rela diperintahnya” (Gadis
Pantai:261)
“…
Dia butuhkan dada emaknya, Ah, besok dia takkan minum susu emaknya lagi. Bapak
tak mengerti ini?” (Gadis Pantai: 262)
Ketidakadilan perempuan
sebagai ibu yang menginginkan kebahagiaan bersama anaknya pun terlihat dengan
adanya kutipan yang menerangkan bahwa Gadis Pantai dituduh maling, maling
anaknya sendiri seperti berikut ini.
“Semua
kutinggal di kamar. Aku Cuma bawa anakku sendiri. Cuma anakku sendiri” kakinya
menyepak tapi bujang-bujang lain mendesak
“Maling!”
bentak Bendoro (Gadis Pantai: 264)
Kesimpulan
Terjadinya
ketidakadilan gender dalam masyarakat disebabkan karena nilai budaya yang sudah
mengakar dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat, terutama di Indonesia.
Dengan adanya ketidakadilan inilah menyebabkan adanya deskriminasi terhadap
perempuan seperti kekerasan, pelecehan dan beban kerja yang berat bagi
perempuan
Dalam
novel Gadis Pantai, Pramoedya menunjukan kelemahan akar budaya yang salah,
dimana dalam konstruksinya perempuan menjadi korban utama nilai-nilai yang
sudah dianut ini. Bentuk-bentuk
ketidakadilan dalam novel ini menuturkan betapa Gadis Pantai tidak berdaya
melawan takdir yang menimpanya ketika dinikahi sementara oleh Bendoro yang
merupakan Priyayi yang kaya raya dan berpendidikan
Daftar Pustaka
Toer,
Pramoedya Ananta. 2003. Gadis Pantai.
Jakarta: Lentera.
Minggu, 05 Juni 2016
Mama
Kata mama, mama tidak akan pernah pergi.
Selalu sama aku, selalu bicara panjang lebar tentang kehidupan. Tapi mama pergi. Aku tahu bukan karena mama jahat tidak menepati janji. Tapi mungkin mama lupa karena dunia disana jauh lebih indah daripada disini bersamaku.
Mama pernah cerita bahwa carilah orang yang mencintaiku bukan yang aku cintai. Aku belum pernah menemukan. Sekalinya aku menemukan pasti aku lebih memilih yang aku cintai. Mama benar bahwa aku salah.
Mama selalu mengelus rambutku dan meniup keningku saat aku merasa gerah, mungkin dia pikir aku bisa lebih sejuk dengan sedikit angin yang dihasilkannya. Mama benar. Aku terlelap.
Mama suka sekali masak, baru detik-detik terakhir saja aku diajari, tapi tidak semua. Sekarang aku bisa masak tapi hanya yang mama ajari. Aku ingin pintar memasak. Aku ingin jadi mama. Jadi mama yang baik. Aku mau seperti mama.
Mama. Aku mau bertemu mama.
Selalu sama aku, selalu bicara panjang lebar tentang kehidupan. Tapi mama pergi. Aku tahu bukan karena mama jahat tidak menepati janji. Tapi mungkin mama lupa karena dunia disana jauh lebih indah daripada disini bersamaku.
Mama pernah cerita bahwa carilah orang yang mencintaiku bukan yang aku cintai. Aku belum pernah menemukan. Sekalinya aku menemukan pasti aku lebih memilih yang aku cintai. Mama benar bahwa aku salah.
Mama selalu mengelus rambutku dan meniup keningku saat aku merasa gerah, mungkin dia pikir aku bisa lebih sejuk dengan sedikit angin yang dihasilkannya. Mama benar. Aku terlelap.
Mama suka sekali masak, baru detik-detik terakhir saja aku diajari, tapi tidak semua. Sekarang aku bisa masak tapi hanya yang mama ajari. Aku ingin pintar memasak. Aku ingin jadi mama. Jadi mama yang baik. Aku mau seperti mama.
Mama. Aku mau bertemu mama.
Rabu, 04 Mei 2016
mimpi
aku ingin membuatkanmu rumah jamur dengan atap merah polkadot, ingat ya! aku yang mebuatkan. bukan kamu! jangan sesekali mewujudkan mimpiku, aku ingin aku saja yang mewujudkan.
kita buat rumah itu menjadi rumah kurcaci, mengapa aku menyukai kurcaci? jawabannya mudah karena kurcaci setia menemani putri salju. aku juga ingin memunyai kurcaci-kurcaci yang setia.
dengan taman bunga, aku ingin bunga dengan warna putih, warna Tuhan. banyak sekali yang membuatku membanggakan warna putih.
aku ingin berpagar kayu saja. sehingga para ilalang tidak akan masuk kedalam kebunku.
aku tau kau ingin pula membangun kastil, tapi bolehkah kastil dan rumah jamur itu bersebelahan agar adanya kehidupan? bolehkah kita menjadi bersahabat karena bersebelahan?
aku ingat kau menyanjungku dengan dongeng-dongengmu yang membuatku geli.
namun aku akan menyanjungmu dengan bangunan yang akan aku tawarkan, setuju?
sekarang pejamkan matamu, dan akan aku buatkan segala keinginanmu.
didalam perbedaan ruang dan waktu, didalam tempat dimana semua orang tidak ingin pergi.
.
.
.
.
mimpi.
Jumat, 22 April 2016
Ah Sierra, Bolehkah?
Hai sierra? mengapa kamu selalu membanggakan warna putih? bahkan kali ini saja aku masih belum menemukan dimana titik keindahan pada warna putih.
Sierra.
aku tau bahwa kamu malaikat khayalan, namun bolehkah aku bertanya?
mengapa galaksi bima sakti mengadakan rotasi? apakah perputaran pada poros itu bisa dikatakan indah?
Sierra, ada yang bilang bintang itu tidak nyata hanya pantulan cahaya yang semu
tapi aku tidak berfikir demikian, bagiku bintang mampu memamcarkan cahayanya sendiri
bukankah begitu? bagaimana menurutmu? apakah kamu akan menjawab secara restorasi? seperti jawabanmu pada elphira?
mengapa malaikat duduk diatas pelangi dan jika pelangi tidak ada kemana malaikat akan bernyanyi? tentu saja dibintang!
aku tahu pelangi hanya sesaat dan akan tergantikan oleh bintang
namun bintang yang aku maksud sedang berusaha mendapatkanku Sierra kau tau?
aku begitu takut bahwa dia hanya terobsesi, seperti pelangiku dulu.
keindahan sesaat.
aku takut Sierra.
begitu mencolok perbedaan pelangi dan bintang,
aku ingin bintang itu sepertimu.
malaikat khayalan yang menjaga.
Bolehkah?
Sierra.
aku tau bahwa kamu malaikat khayalan, namun bolehkah aku bertanya?
mengapa galaksi bima sakti mengadakan rotasi? apakah perputaran pada poros itu bisa dikatakan indah?
Sierra, ada yang bilang bintang itu tidak nyata hanya pantulan cahaya yang semu
tapi aku tidak berfikir demikian, bagiku bintang mampu memamcarkan cahayanya sendiri
bukankah begitu? bagaimana menurutmu? apakah kamu akan menjawab secara restorasi? seperti jawabanmu pada elphira?
mengapa malaikat duduk diatas pelangi dan jika pelangi tidak ada kemana malaikat akan bernyanyi? tentu saja dibintang!
aku tahu pelangi hanya sesaat dan akan tergantikan oleh bintang
namun bintang yang aku maksud sedang berusaha mendapatkanku Sierra kau tau?
aku begitu takut bahwa dia hanya terobsesi, seperti pelangiku dulu.
keindahan sesaat.
aku takut Sierra.
begitu mencolok perbedaan pelangi dan bintang,
aku ingin bintang itu sepertimu.
malaikat khayalan yang menjaga.
Bolehkah?
Sabtu, 09 April 2016
Hujan pertengahan april
Kepada butir hujan pada April, aku rindu. Rindu dengan semua yang sempat ada, lalu hilang. Atau yang kini masih ada, tapi nanti akan hilang. Semuanya memang akan hilang, bahkan hari ini akan hilang ditelan senja. Kepada hujan di pertengahan april, aku rindu. Aku berjinjit melewati masa yang pasang surut. Berlari mengejar, jatuh tersungkur, terisak tergugu, temangu melamun, menahan sesak, menatap lurus-lurus apa yang perlahan hanya tinggal bayangan tipis. Hujan di pertengahan april, mengapa rindu itu egois?
Minggu, 03 April 2016
Sebuah nama panjang
Aku suka ketika menyebut nama panjang seseorang disela sebuah percakapan
Bagiku terasa lebih menghormati
Aku suka ketika menyebut nama panjang
Ada beberapa makna yang terkandung dalam nama itu
Sebuah harapan, sebuah keinginan yang menjadikan nama itu adalah sebuah prahara yang indah; doa.
Kuselipkan nama panjangmu dalam setiap doa, berharap segala yang fana akan menjadi keindahan nyata. bahkan setiap semogamu aku selalu mengamini didalam hati.
Hati yang tidak pernah mengingkari.
Ia selalu jujur dengan apa keadaannya
Tidak pernah bohong dan tidak pernah menyakiti
Bahkan ketika musuh terbesarnya; otak.
Mereka seringkali tidak singkron.
Dan jika kalian tidak setuju. Aku tidak peduli
Sebuah nama akan menjadi ingatan yang membekas dalam peluh kalbu.
Bagiku terasa lebih menghormati
Aku suka ketika menyebut nama panjang
Ada beberapa makna yang terkandung dalam nama itu
Sebuah harapan, sebuah keinginan yang menjadikan nama itu adalah sebuah prahara yang indah; doa.
Kuselipkan nama panjangmu dalam setiap doa, berharap segala yang fana akan menjadi keindahan nyata. bahkan setiap semogamu aku selalu mengamini didalam hati.
Hati yang tidak pernah mengingkari.
Ia selalu jujur dengan apa keadaannya
Tidak pernah bohong dan tidak pernah menyakiti
Bahkan ketika musuh terbesarnya; otak.
Mereka seringkali tidak singkron.
Dan jika kalian tidak setuju. Aku tidak peduli
Sebuah nama akan menjadi ingatan yang membekas dalam peluh kalbu.
Kamis, 31 Maret 2016
entahlah
aku hampir tidak tahu apa yang harus aku mulai. aku kacau. aku tidak menemukan titik kebahagiaan lagi sejak salah satu anggota dibagian terpenting ini pergi. ibu.
aku merasa aku selalu salah, apa yang aku lakukan tidak akan pernah ada benarnya. aku tidak ada pembela. pembelaku pergi.
aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, yang jelas aku benar-benar tertekan. aku di dikte aku benar-benar dicetak untuk mengikuti mau mereka. semua kegiatan, bahkan teman saja selalu dikritik.
aku rindu....
aku rindu bahagia lagi.
curahan tetes air mata ini tidak akan pernah bisa merubah apapun, aku ingin seperti anak-anak yang lainnya. aku ingin menjadi yang dibanggakan tapi tidak pernah sekalipun mereka bangga terhadapku, aku ini apa? aku bukan boneka tangan yang dengan seenaknya di gerakkan, aku ingin bebas. aku ingin bebas berkreasi aku ingin bebas menjadi apapun yang aku mau.
mengapa yang aku lakukan selalu di kritik? mengapa yang aku perbuat itu salah? bahkan aku mengikuti lomba dan menjadi pemenangpun aku masih menjadi tersangka kesalahan.
Tuhan, aku percaya skenariomu lebih indah. namun percayalah aku benar-benar letih dengan semua ini. aku mencoba mengerti dan menerima
tp mengapa tetap saja aku selalu salah?
aku merasa aku selalu salah, apa yang aku lakukan tidak akan pernah ada benarnya. aku tidak ada pembela. pembelaku pergi.
aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, yang jelas aku benar-benar tertekan. aku di dikte aku benar-benar dicetak untuk mengikuti mau mereka. semua kegiatan, bahkan teman saja selalu dikritik.
aku rindu....
aku rindu bahagia lagi.
curahan tetes air mata ini tidak akan pernah bisa merubah apapun, aku ingin seperti anak-anak yang lainnya. aku ingin menjadi yang dibanggakan tapi tidak pernah sekalipun mereka bangga terhadapku, aku ini apa? aku bukan boneka tangan yang dengan seenaknya di gerakkan, aku ingin bebas. aku ingin bebas berkreasi aku ingin bebas menjadi apapun yang aku mau.
mengapa yang aku lakukan selalu di kritik? mengapa yang aku perbuat itu salah? bahkan aku mengikuti lomba dan menjadi pemenangpun aku masih menjadi tersangka kesalahan.
Tuhan, aku percaya skenariomu lebih indah. namun percayalah aku benar-benar letih dengan semua ini. aku mencoba mengerti dan menerima
tp mengapa tetap saja aku selalu salah?
Jumat, 18 Maret 2016
Hai masa depan!
“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan.” - Pidi BaiqKepadamu dimasa depanku..
aku tidak tahu siapa dan aku tidak ingin menerkamu
aku hanya menyampaikan pesan yang aku tulis ini
aku tidak pernah menyesali kesalahan dengan siapa aku memulai
tapi mereka mengajarkanku banyak hal
kesabaran, keikhlasan dan juga kepercayaan dan pengertian
Hai! kali ini aku masih belajaar itu, jika kamu tidak menghargai akupun tidak perduli
cinta itu indah karena cinta itu "saling"
Kepadamu...
kelak, aku akan bersungguh-sungguh menjadi yang terbaik.
karena buah hatimu berhak keluar dari rahim wanita cerdas.
aku akan patuh dan berusaha menjadi makmum mu.
sekarang,
biarkanlah aku menjelajahi duniaku
dengan siapapun aku sedang menikmati hidup
aku akan selalu membahagiakannya
karena aku belajar agar bisa membahagiakanmu
aku akan menerima kekurangannya
karena aku belajar menerima kekuranganmu kelak.
jika aku tidak mencarimu, bukan berarti aku tidak berusaha.
aku hanya berusaha membuatmu menemukanku yang sedang menunggu.
jika kali ini aku salah memilih pasangan,
sempurnakanlah aku nanti.
jika kali ini aku salah memilih pasangan,
benarkanlah didalam hubungan kita nanti.
jika kali ini aku salah memilih pasangan,
percayalah! aku sedang berusaha menjadi yang terbaik untuk pasanganku dimasakini.
agar meski berbeda ruang dan waktu kelak kau akan belajar menjadi yang terbaik untukku.
Begitu pula aku...
Pesulap Rasa
Rasa rinduku meluap, entah aku harus berbuat apa. Aku tak tau aku harus berkata apa padanya, aku takut dia bosan dengan rinduku.
Terkadang aku berfikir, bagaimana caranya agar dia tau rasaku inI, tetapi Tuhan memukul pelan kepalaku dengan sebuah momen yang sampai sekarang masih aku ingat dan akan selalu teringat.
Bagiku dia seperti pesulap yang dengan pandainya merubah rasaku dengan cepat dan dia pun sangat mengerti rasaku.
Aku terkagum oleh hebatnya, dia mengerti rinduku tanpa aku berkata sedikitpun, dia mengerti rasa sayangku tanpa aku menjelaskan semua rasaku, sekalipun aku tidak menunjukan.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah dia mau tau, dia tidak pernah mau mendengar rasa cemburuku.
Monster.. Bagaimana kalau aku sedang cemburu? Karena aku tidak sepandai-pandainya pencemburu, karena aku tau rasa cemburuku membuatmu kesal.
Aku selalu mengingat pesanmu "Hati-hati dengan rasa cemburu". Aku akui rasa percayamu luar biasa, dan aku ingin menjadi seperti kau
Sabtu, 27 Februari 2016
Bimbang
Pertama kali aku tergugahDalam setiap kata yang kau ucapBila malam tlah datangTerkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku
Kata orang rindu itu indahNamun bagiku ini menyiksaSejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimuNamun sulit ku membenci
Pejamkan mata bila kuingin bernafas legaDalam anganku aku berada disatuPersimpangan jalan yang sulit kupilih
Ku peluk semua indah hidupkuHikmah yang ku rasa sangat tulusAda dan tiada cinta bagiku tak mengapaNamun ada yang hilang separuhDiriku
Rabu, 17 Februari 2016
Kepadamu Senjaku.
Aku suka ketika kau bersajak, seolah kau tenggelam dalam
setiap imajinasi yang berkecimpung dalam fikiranmu. Begitu apa adanya, santai.
Tanpa adanya tipuan ilusi atau sajak yang rekayasa. Namun kau benar-benar murni
bersajak sesuai apa yang hati dan fikiranmu singkronkan..
Mengapa kau mencintai senja? Aku tersenyum meremehkan, apa
yang indah dengan senja? Bukankah senja akan menggantikan kecerahan hari
menjadi gelap gulita? Mata ini seakan buta untuk menatap, tak heran kau begitu
mencintainya. Karena senja, adalah dirimu yang lain
Ada dirimu yang kau sendiripun tak dapat mengenalinya,
keanehanmu menjadi keganjalanku. Kekuranganmu menjadi pelengkapku. Kita sama
namun sebetulnya sangat berbeda. Kau dengan senjamu dan aku sebagai penikmat
kopi yang tersenyum ketika melihatmu membanggakan senja.
Memang ada yang melebihi saudara, memahami meskipun tak
mengerti. Mengiyakan meskipun tidak setuju, menerima meskipun tak sesuai dengan
cara berfikir, dan tertawa karena pada hakikatnya ikatan kita ini satu.
Entah apakah kau merasakan kegundahan yang aku sungguh tidak
dapat menerka dengan akal sehatku. Begitu terlalu mudah suasana hatimu goyah.
Ketika aku diam, aku benar-benar tidak tahu cara membujukmu menjadi senjaku
yang ceria lagi.
Apakah karena itu kau mencintai senja? Karena senja mampu
merubah hal yang sebenarnya tidak ingin ditinggalkan?
Kepadamu senjaku, aku menulis pada hujan dibulan Februari
kamu
Kalau kamu tanya dimana tempat favoritku, aku jawab “tempat bonceng motormu” aku bisa bercerita, menggodamu, bahkan mengolok-olokmu semauku
Kalau kamu tanya apa keadaan yang sangat aku tunggu-tunggu? aku jawab "ketika berjalan dari GKB menuju parkiran dan menemuimu menungguku disitu".
Kalau kamu tanya apa kebahagiaan kecil untukku? aku jawab "berjalan beriringan dikampus sambil tanganmu mengelus kepalaku"
Kalau kamu tanya kapan hari paling menyenangkan? aku akan jawab "hari dimana pertama kali kita bertemu"
Kalau kamu tanya apa yang membuatku berdebar? Aku jawab "Melihatmu sedang melihatku dan tersenyum"
Kalau kamu tanya apa yang paling aku sukai? Aku jawab “semua cacat dan sempurnamu”
Kalau kamu tanya apa yang paling aku kagumi? Aku jawab “perubahan lebih baikmu”
Kalau kamu tanya apa hal yang paling membuat aku aman? Aku jawab “berada dalam penjagaanmu”
Kalau kamu tanya kenapa aku perlu menulis ini dalam blogku? Aku jawab “aku suka menulis tentangmu”
Kamis, 28 Januari 2016
Kenangan itu nyata adanya
Malam ini, kenangan itu muncul lagi menyambar dipikiranku, haruskah kubiarkan pergi atau kuizinkan menggeledahi seisi kepalaku akan kenyataan yang telah berlangsung lama itu?
Kupaksa pejamkan mata, namun malam menolaknya seolah ingin aku kembali terhanyut dalam kenangan itu.
Bukan kenangan syahdu, hanya begitu kuat kekuatan yang disebut sebaik-baiknya penyimpan.
Sebutir kenangan mampu merusak jutaan sel-sel otak yang bersikeras melupakannya, layaknya hukum pareto 80/20 hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Begitu pula usaha menyimpan sebuah kenangan.
Mengapa harus angkasa? Apa karena adanya semesta? Angkasa dan semesta saling berkaitan begitu pula kenangan dan masa depan.
Kupaksa pejamkan mata, namun malam menolaknya seolah ingin aku kembali terhanyut dalam kenangan itu.
Bukan kenangan syahdu, hanya begitu kuat kekuatan yang disebut sebaik-baiknya penyimpan.
Sebutir kenangan mampu merusak jutaan sel-sel otak yang bersikeras melupakannya, layaknya hukum pareto 80/20 hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Begitu pula usaha menyimpan sebuah kenangan.
Mengapa harus angkasa? Apa karena adanya semesta? Angkasa dan semesta saling berkaitan begitu pula kenangan dan masa depan.
Kamis, 14 Januari 2016
pernahkah?
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena paras dan tingkah lakunya
Namun karena tatapan yang teduh dan senyum yang menentramkan.
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena harkat dan martabatnya
Namun karena akhlak dan usahanya menjadi lebih baik.
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena tata ucap dan sopan santunnya
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan terhadap angin malam yang seolah tersenyum kecut melihatmu rindu akan dia
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena begitu menginginkannya namun karena bibir berkata "enggan"
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena dia begitu lembut dan membuatmu berarti
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan ketika hujan turun dan payung merah itu siap menjadi tamengmu menerobosnya.
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena kayu lapuk yang terbakar habis oleh api dan menjadi abu
Pernahkah kau jatuh cinta.
Dengan dia, kau merasa seolah bahwa ingin berusaha menyayanginya selayak apa telah dia perbuat.
kau merasa tak ingin mengecewakannya, tak ingin memberi luka lagi, tak ingin memerangi hatimu untuk waktu yang terlalu lama.
Kita terlalu asing, terlalu banyak perbedaan.
begitu sering aku menggunakan setiap alasan yang pada hakikatnya tak mengandung arti
karena setiap alasan bagimu adalah pengecualian
Bukan karena paras dan tingkah lakunya
Namun karena tatapan yang teduh dan senyum yang menentramkan.
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena harkat dan martabatnya
Namun karena akhlak dan usahanya menjadi lebih baik.
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena tata ucap dan sopan santunnya
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan terhadap angin malam yang seolah tersenyum kecut melihatmu rindu akan dia
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena begitu menginginkannya namun karena bibir berkata "enggan"
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena dia begitu lembut dan membuatmu berarti
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan ketika hujan turun dan payung merah itu siap menjadi tamengmu menerobosnya.
Pernahkah kau jatuh cinta?
Bukan karena kayu lapuk yang terbakar habis oleh api dan menjadi abu
Pernahkah kau jatuh cinta.
Dengan dia, kau merasa seolah bahwa ingin berusaha menyayanginya selayak apa telah dia perbuat.
kau merasa tak ingin mengecewakannya, tak ingin memberi luka lagi, tak ingin memerangi hatimu untuk waktu yang terlalu lama.
Kita terlalu asing, terlalu banyak perbedaan.
begitu sering aku menggunakan setiap alasan yang pada hakikatnya tak mengandung arti
karena setiap alasan bagimu adalah pengecualian
dan aku, pernah.
Sabtu, 09 Januari 2016
sebetulnya ia manusia, ataukah dewa?
kuterperonjak dari tidurku, kebuka pintu dan segala mencari sudut penjuru seisi rumah ini, namun tak kutemui sosoknya. kulihat diluar rumah air tak henti-hentinya menjatuhkan dirinya membawa keberkahan dimalam ini, hujan... hening...
aku tersadar sudah lebih dari satu jam yang lalu adzan maghrib berkumandang, kuambil payung dan dengan gontai mataku menyapu setiap jalan yang kulewati dengan mengangkat sebagian rokku takut terkena genangan air yang mampu membatalkan wudhuku..
tiba-tiba kakiku kaku, seolah tak ingin beranjak dari tempat aku berdiri, air mata tiba-tiba menetes dengan sendirinya tanpa aku menyuruhnya keluar dari mata ini. kutemui sosok yang kucari dengan berkalung sorban dan mengenakan peci ia sedang bercerita dan seolah menjelaskan sesuatu kepada beberapa orang anak-anak yang duduk didepannya, dengan tertawa dan gerakan tangan serta mimik wajah yang memperlihatkan ekspresinya seolah ia hanyut dalam cerita dan pengetahuannya. ia mengajar anak-anak itu mengaji.
aku berdiri, lama. kuyakinkan bahwa itu dia. ayahku. dengan rambut yang mulai memutih dan guratan keriput tergambar jelas didahinya. tak henti-hentinya mulutku ini bertasbih. aku tercengang, aku bangga, dan aku terharu, begitu sulit jalan yang telah ia lewati pasca ibuku meninggal. aku tau dalam diam sebenarnya ia menderita, aku tau begitu besar cintanya, pengorbanannya,..
kuusap air mataku yang bercampur dengan air hujan, kubalikkan badan dan kembali kerumah dengan kembali sempoyongan dan tak bisa kukondisikan air mata yang jatuh ini, begitu luar biasa ciptaan-Mu, sebetulnya benarkah ia manusia? manusia yang selalu dapat memanusiakan manusia. manusia yang selalu menjelma sebagai makhluk lain didalam sanubariku yang selalu menghormati dan menyayanginya.
sebetulnya ia manusia, ataukah dewa?
aku tersadar sudah lebih dari satu jam yang lalu adzan maghrib berkumandang, kuambil payung dan dengan gontai mataku menyapu setiap jalan yang kulewati dengan mengangkat sebagian rokku takut terkena genangan air yang mampu membatalkan wudhuku..
tiba-tiba kakiku kaku, seolah tak ingin beranjak dari tempat aku berdiri, air mata tiba-tiba menetes dengan sendirinya tanpa aku menyuruhnya keluar dari mata ini. kutemui sosok yang kucari dengan berkalung sorban dan mengenakan peci ia sedang bercerita dan seolah menjelaskan sesuatu kepada beberapa orang anak-anak yang duduk didepannya, dengan tertawa dan gerakan tangan serta mimik wajah yang memperlihatkan ekspresinya seolah ia hanyut dalam cerita dan pengetahuannya. ia mengajar anak-anak itu mengaji.
aku berdiri, lama. kuyakinkan bahwa itu dia. ayahku. dengan rambut yang mulai memutih dan guratan keriput tergambar jelas didahinya. tak henti-hentinya mulutku ini bertasbih. aku tercengang, aku bangga, dan aku terharu, begitu sulit jalan yang telah ia lewati pasca ibuku meninggal. aku tau dalam diam sebenarnya ia menderita, aku tau begitu besar cintanya, pengorbanannya,..
kuusap air mataku yang bercampur dengan air hujan, kubalikkan badan dan kembali kerumah dengan kembali sempoyongan dan tak bisa kukondisikan air mata yang jatuh ini, begitu luar biasa ciptaan-Mu, sebetulnya benarkah ia manusia? manusia yang selalu dapat memanusiakan manusia. manusia yang selalu menjelma sebagai makhluk lain didalam sanubariku yang selalu menghormati dan menyayanginya.
sebetulnya ia manusia, ataukah dewa?
Sabtu, 02 Januari 2016
Konspirasi Kotor
Kategori : Cerpen Sejarah
Penulis : Sesi Anita Irawati
Pagi itu, 25
September 1965, seorang lelaki tergopoh-gopoh memasuki sebuah rumah berdinding
bilik. Setelah meneguk segelas teh yang sudah dingin karena telah disiapkan
sejak subuh oleh sang istri, ia bergegas mengganti sandalnya dengan sebuah
sepatu kulit murahan, bermaksud hendak pergi lagi, kali ini sambil membawa
sebuah map merah berisi entah apa.
"Mas?" Sri, istrinya, hanya bisa
memandangnya dengan tatap penuh tanya.
Lelaki yang dipanggil mas itu menoleh. Hanya sekilas
lalu kembali menekuni pekerjaannya memakai sepatu. Masih dengan gegas yang
sama.
"Aku ada urusan penting, Sri, urusan organisasi.
Ati-ati neng umah...jaga awakmu yo1!" Lelaki itu menyentuh pucuk kepalanya
sekilas lalu melesat pergi.
Itulah hari terakhir Sri bisa menatap wajah suaminya.
Suami yang baru dua bulan memberinya gelar lain sebagai ibu Sunardi. Bukan lagi
Sri Parwati. Dan ia, yang sejak kecil diajari sang ibu untuk tak banyak tanya
pada apa pun urusan sang suami, hanya bisa melakoni perannya sebagai istri
berbakti, manut, tak boleh bertanya, dan pantang mengatakan tidak. Ia tak tahu
apa-apa tentang organisasi, entah apa yang nampak sangat dicintai suaminya itu.
Ia ingin tahu, tapi tak punya daya apa pun. Pernah sekali ia memberanikan diri
bertanya, tapi suaminya menjawab dengan nada amarah.
" Sri, kowe ra sah melu-melu, pokoke aku nyambut
gawe kanggo wong cilik.2"
Dan itu cukup bagi Sri untuk memutus rasa ingin
tahunya. Ia mulai berusaha menutup mata dan telinga dengan apa pun yang
dilakukan suaminya. Lagipula pekerjaannya sebagai penjahit kecil-kecilan selain
guru SR di dusun kecil di pelosok Kediri itu sudah sangat menyita perhatian.
Harapan Sri sederhana saja, apa pun yang dilakukan
suaminya, tidak berbahaya bagi mereka. Di dunia, maupun di akhirat.
Hari itu 1 Oktober 1965, tak seperti biasanya,
kegiatan sekolah dihentikan sebelum waktunya. Kepala sekolah mendatangi setiap
kelas dan mengumumkan bahwa ada peristiwa genting di Jakarta sehingga sekolah
harus dikosongkan. Juga tak boleh keluar dari rumah. Sri dan kawan sesama guru
bergegas pulang meski dengan setumpuk pertanyaan. Karena tak ada penjelasan
sama sekali tentang peristiwa yang disebut genting itu.
Sri menghitung-hitung dalam hati sambil menyandarkan
sepeda jengkinya dipohon seri depan rumah. Berarti sudah enam hari Mas Nardi
pergi dan tidak ada kabar. Sri mendesah, ia cemas. Ada perasaan ngelangut,
linglung. Dan itu aneh. Rasa ini seharusnya tidak ada. Toh suaminya sudah
sering meninggalkannya untuk urusan organisasi.... Entah apa? Mas Nardi tak
pernah memberinya keterangan apapun.
Ia baru selesai berganti pakaian ketika didengarnya
suara gaduh dihalaman, memanggil manggil nama suaminya. Setengah berlari Sri
menghambur keluar, namun di pintu ia bertabrakan dengan serombongan orang
berseragam tentara.
"Mana Sunardi?!!"
"Geledah! Cari sampai ketemu!"
Mereka sama sekali tak memberi Sri kesempatan untuk
bertanya. Para tentara itu merangsek ke dalam rumahnya, mengobrak-abrik apa
saja, mengeluarkan semua isi lemari. Sri betul-betul tak mengerti. Namun, belum
sempat ia berpikir lebih jauh, dua orang tentara membetot tangannya, lalu
mengikat dan mendorongnya hingga ia jatuh terduduk di halaman tanah rumahnya.
"Kamu istrinya Sunardi?!!"
Sri mengangguk dengan gemetar.
"Mana suamimu? Jangan coba-coba bohong!"
"Sungguh, saya ndak tahu, suami saya pergi sejak
seminggu lalu..."
"Bohong! Kamu tahu? Suamimu itu PKI. Kamu juga
pasti anggota Gerwani yang ikut membunuh jenderal-jenderal kami...!"
Sri terlongo, ia sama sekali tak mengerti maksud
ucapan itu.
"Dasar perempuan sundal, pembunuh, pelacur!"
PLAK! Lalu pukulan bertubi-tubi menghantam wajahnya,
menjambak rambutnya.
"Bunuh saja! Bunuh! Bakar rumahnya!"
Suara itu gegap gempita, dan ucapan itu bukan
main-main, sebentar saja api sudah membumbung tinggi dan dengan cepat membakar
hangus rumahnya yang hanya berdinding bilik. Sri terlongong dalam cengkeraman
tangan kekar salah seorang tentara. Namun mereka tidak membunuhnya. Mungkin
belum.
Sri sudah tak mampu menangis. Takut dan bingung
menguasainya.
Kemudian tanpa banyak bicara, mereka menaikkan Sri ke
dalam sebuah truk. Melemparnya begitu saja seolah tubuhnya sebuah karung barang
bekas. Dalam bak truk terbuka itu, ternyata sudah banyak orang. Laki-laki dan
perempuan, semua dengan kondisi sama. Tangan terikat dan penuh luka bekas
pukulan. Sri ingin bertanya, tapi nampaknya, ketakutan membuat mereka lebih
memilih untuk diam.
Mereka dibawa ke sebuah pos polisi dan ditempatkan di
sebuah ruangan. Lelaki dan perempuan dipisah. Namun berjejal-jejal saking
banyaknya. Kepala Sri penuh dengan pertanyaan, tapi suasana yang tegang dan
mencekam membuat mereka tak berani membuka suara. Lelah fisik dan batin
membuatnya nyaris trtidur ketika suara kerangkeng besi yang berat mengagetkannya.
"Mana istri Sunardi? Sekertaris CC PKI 3?"
seorang tentara berteriak.
Mereka semua terdiam. Sri ketakutan.
"Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua akan
saya bunuh!"
Mereka saling berpandangan. Takut takut, Sri maju. Ia
harus menyerahkan diri, tak mungkin mengorbankan orang lain.
Tentara itu membawa Sri ke sebuah ruangan. Di sana ada
setengah lusin lagi tentara, menunggu mereka dengan bedil terhunus.
"Ini dia, pembunuh jenderal-jenderal!"
kalimat itu menyambutnya.
"Pembunuh? Siapa yang saya bunuh?" Sri
memberanikan diri bersuara.
"Dasar sundal...! Pura-pura tidak tahu!"
PLAK! PLAK!
Pukulan itu kembali bertubi-tubi. Sungguh tak mampu
membuatnya bisa berpikir tentang apa yang terjadi. Selanjutnya, Masya Allah,
kejadian yang tak pernah Sri bayangkan terjadi. Siksaan di luar batas peri
kemanusiaan, keji dan hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tak bertuhan. Sri
hanya bisa menjerit dalam hati, karena ia tahu tak ada artinya jika jeritan itu
ia bahasakan. Malah akan lebih menyenangkan buat mereka. Ditahannya sakit
sambil terus menyebut nama Allah, sampai suatu ketika, ketika sakit itu tak
tertahankan lagi, ia terkapar dengan kesadaran yang tercerabut sempurna.
***
Sri terbangun dengan mata berkunang-kunang. Bibirnya
perih dan masih merembeskan darah. Wajahnya bengkak dan penuh lebam. Di atas
itu semua, ia merasa perih yang amat sangat di bagian vital tubuhnya. Arus
listrik entah berapa ratus volt yang terakhir kali ia rasakan menyetrum
tubuhnya, tepat di bagian-bagian vital. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi,
sampai akhirnya terbangun dalam sel. Terbaring dengan pakaian yang sudah
tercabik-cabik. Sri sangat malu. Beberapa wanita menatapnya iba. Salah seorang
tengah mengoleskan minyak kelapa di tubuhnya yang memar-memar.
"Ada apa ini?" Untuk pertama kalinya Sri
membuka suara. Sejauh ini, meski siksaan telah bertubi-tubi menghantamnya, ia
sama sekali tak mengerti apa yang terjadi. Tentara-tentara itu hanya memaksanya
mengakui bahwa ia adalah anggota Gerwani, gerakan simpatisan PKI yang
mendalangi pembunuhan para jenderal di Jakarta..
"Sabar, Nduk..." Perempuan yang mengoleskan
minyak kelapa tersenyum lemah.
"Tapi yo aku ra ngerti, Mbak..."
"Kita semua juga tidak mengerti apa yang terjadi.
Sebelum ditangkap saya dengar ada pembunuhan para jenderal di Jakarta dan PKI
yang dituduh mendalanginya. Suami sampeyan orang PKI to?"
Sri termangu, jadi?
"Suami saya juga anggota BTI4 dan saya baru
seminggu menjadi anggota Gerwani. Tapi saya sama sekali tidak mengerti kenapa
saya dituduh ikut merencanakan pembunuhan para jenderal hanya karena saya
Gerwani. Padahal organisasi kami hanya mengajarkan baca tulis serta
keterampilan kaum perempuan. Tapi pemerintah menuduh Gerwani dididik oleh PKI untuk
membunuh dan menyayat nyayat para jenderal..."
Sri terduduk lemas. Jadi itu masalahnya? Dia adalah
istri seorang petinggi PKI, dan baru baru ini telah terjadi pembunuhan para
jenderal dan PKI adalah dalangnya. Benarkah? Lalu mengapa dia ikut disiksa? Padahal
ia tak tahu apa-apa. Di mana suaminya kini pun ia tak tahu.
Mas Sunardi! Apa yang terjadi padanya?
Sri meneteskan air mata. Ia takut, bingung, dan sedih.
Padahal itu baru malam pertama mereka dalam sel, ia telah mengalami penyiksaan
luar biasa. Sri tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka esok
dan esoknya lagi.
***
Sudah seminggu Sri dan lebih dari dua puluh wanita
lain berada dalam sel, tanpa diadili. Mereka hanya diwajibkan menjawab semua
pertanyaan para interogator dengan sepatah kata ya. Jika berani membangkang,
tak segan-segan pukulan, tendangan, bahkan sengatan listrik menghantam tubuh.
Beberapa tak kembali setelah dibawa tentara ke ruang interogasi. Lebih dari
itu, setiap habis disiksa secara fisik, mereka juga mendapatkan siksaan lain
berupa pemerkosaan!
"Bon malam" adalah istilah yang mereka pakai
untuk mengambil para wanita untuk diinterogasi. Dan yang lebih menyakitkan,
semua itu dilakukan oleh bangsanya sendiri!
Air mata Sri sudah kering. Yang ada di benaknya kini
hanyalah bagaimana caranya supaya ia bisa melarikan diri. Tapi itu nampaknya
mustahil. Puluhan tentara berjaga di seantero sel. Tak ada celah.
"Kita harus melawan, Mbak..." Sri berbisik
pada wanita yang menolongnya tempo hari, yang kini diingatnya bernama Rusminah.
Wanita itu menggeleng dengan sorot putus asa.
"Tidak mungkin, Sri...mereka..."
Ucapan itu terhenti karena tiba-tiba tiga orang
tentara datang dan membawa tiga orang perempuan, termasuk Sri. Dengan tubuh yng
masih sangat lemah, Sri terseok-seok dalam seretan tangan tangan kekar itu.
Mereka dibawa kembali keruang interogasi. Namun ternyata
di sana bukan hanya ada tentara, tapi beberapa lelaki yang menenteng mesin tik
dan kamera. Sepertinya wartawan. Allah, apalagi yang akan mereka lakukan?
Sebelum tiba di dekat para wartawan itu, seorang
tentara berbisik pada mereka.
"Ingat, jawab semua pertanyaan wartawan itu
dengan ya saja. Kalian tahu apa yang akan terjadi jika kalian
membangkang!"
Mereka didudukan di atas meja, dengan tubuh separuh
terbuka karena pakaian-pakain yang telah tercabik. Sementara itu, puluhan
lelaki, tentara dan wartawan, mengelilingi mereka. Segera saja, cahaya kamera
menyorot wajah-wajah mereka. Sri merasa harga dirinya benar-benar berlutut di
angka nol. Tapi, masih adakah gunanya membicarakan harga diri?
"Ini dia, perempuan-perempuan pelacur pembunuh
para jenderal. Anggota gerakan merekalah yang menyilet-nyilet para jenderal
kita, menari-nari telanjang dan memotong alat vital para jenderal kebanggaan
kita."
Sri menunduk. Hatinya menjerit-jerit. Ia ingin
menyangkal semua itu, tapi ia tahu apa yang akan diterimanya. Pelecehan?
Siksaan? Atau bahkan... kematian?
Kematian? Bukankah itu jauh lebih baik? Apalagi ia
mati untuk mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Juga membela harga
dirinya. Ia sungguh tak tahu apa apa. Bahwa ia bersuamikan seorang anggota PKI,
itu diluar sepengetahuannya. Di luar keinginannya. Dan apapun yang dilakukan
suaminya, ia sama sekali tak tahu.
Tidak adakah peradilan untuknya? Peradilan yang
sesungguhnya. Bukan interogasi sepihak.
"Jadi kamu istri sekertaris CC PKI, Sunardi,
ha?" seorang wartawan menanyainya dengan geram. Tuhan, bukankah seharusnya
ia pihak yang netral? Apakah ia juga telah menjadi budak kekuasaan?
"Jawab!! " seorang tentara membentaknya.
"Ya "
"Bagus, jadi benar kalian merencanakan pembunuhan
keenam jende ral, menyayat nyayat tubuh mereka lalu melemparkannya ke sumur
tua? "
Sri menengadahkan kepala. Rasa sakit yang amat sangat
ditubuhnya masih belum seberapa dibanding siksaan batin dan mentalnya. Ia sama
sekali tak rela dituduh membunuh para jenderal. Ia mencintai negara ini.
Lagipula ia hanya ibu rumah tangga biasa. Bagaimana bisa ia dituduh terlibat
pembunuhan keji itu?
"Tidak!! "
Tiba-tiba kata itu melesat dari mulutnya. Semua orang
di ruangan tertegun. Terlebih kedua wanita tahanan yang diseret bersamanya.
Mereka menunduk ketakutan.
"Dasar sundal! Pembunuh!! Pelacur!"
"Tidaaak!" Sri kembali berteriak, kali ini
lebih lantang. Sudah kepalang basah, ia bertekad menyelesaikannya saat ini
juga. Ia hanya punya dua pilihan. Mengikuti kemauan mereka untuk mempertahankan
hidupnya dalam kehinaan, atau mempertahankan harga diri dan kebenaran yang
mungkin berujung pada kematian.
"Saya tidak pernah membunuh para jenderal! Kami
tak pernah membunuh!"
Itu adalah kalimat terakhir yang dapat ia
perdengarkan. Sesudahnya, sebuah hantaman keras menghantam batok kepalanya,
memberinya kegelapan sempurna.
***
Nun jauh di sana, di pusat ibu kota, seorang lelaki
berperawakan gagah, dengan setelan perwira yang dipenuhi tanda kepangkatan,
tengah menerima telepon.
"Ternyata tidak sesulit yang saya duga,
Sir..."
"Tentu saja." Seseorang di ujung telepon
lain menyahuti, "Sudah saya bilang, cara saya akan lebih efektif. Kita
gunakan orang dalam untuk menumbangkan kekuasaan. Tak perlu mengotori tangan
sendiri. Hanya memerlukan beberapa martir. Maka Anda lihat hasilnya. Anda tak
perlu lagi mengasuh Jenderal-jenderal yang Anda sebut tak berguna itu, rakyat
tak percaya pada pemerintah, PKI yang dituduh mendalangi akan segera ditumpas,
dan Anda tinggal memetik hasilnya. Tak ada lagi yang menghalangi Anda untuk
mengambil alih kekuasaan. Bahkan saya yakin, rakyat Anda akan menganggap aAnda
sebagai dewa penyelamat. Selanjutnya, tinggal membuat buku-buku sejarah
sebagaimana Anda inginkan..."
Mereka tertawa.
"Tentu saja, saya pun menunggu hasilnya. Jangan
lupakan janji-janji Anda, membiarkan bangsa kami mengeksplorasi kekayaan bumi
anda. Fifty-fifty. Dengan jalan halus tentu saja. Saya jamin, tak akan ada yang
berani mengusik ketenangan Anda nantinya."
"Deal...!!" Telepon ditutup. Sang perwira
tersenyum puas.
Di sebuah benua di belahan bumi yang lain, sepotong
tangan ikut meletakkan gagang telepon. Lalu tersenyum, dengan ekspresi puas
yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)